Son-Rise dan DIR Floortime: Bermain, Berelasi, dan Membangun Perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus
- 24 Des 2025
- 5 menit membaca
Oleh: Andini Iskayanti Putri, M.Psi., Psikolog - Koordinator Program & Psikolog Klinis Anak Drisana Center

Selama bertahun-tahun, intervensi untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) kerap dipersepsikan sebagai rangkaian latihan terstruktur, target perilaku, dan daftar keterampilan yang harus “dikejar”. Pendekatan ini memang bermanfaat bagi sebagian anak, namun bagi anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) atau gangguan perkembangan lainnya, perkembangan tidak selalu tumbuh dari instruksi semata. Banyak anak justru berkembang ketika mereka merasa aman, terhubung, dan dipahami.
Di sinilah pendekatan play-based dan relationship-based seperti Son-Rise Program dan DIR/Floortime menemukan relevansinya. Keduanya berangkat dari satu asumsi mendasar: hubungan emosional adalah fondasi perkembangan. Bermain bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan medium utama bagi anak untuk belajar regulasi emosi, komunikasi, dan berpikir.
Menggeser Paradigma: Dari “Mengoreksi Perilaku” ke “Membangun Relasi”
Anak dengan ASD sering kali mengalami kesulitan dalam atensi bersama (joint attention), regulasi emosi, dan fleksibilitas berpikir. Jika intervensi terlalu berfokus pada kepatuhan atau hasil yang terukur, anak dapat tampak “patuh” tanpa benar-benar memahami atau terhubung secara sosial (Greenspan & Wieder, 2006). Son-Rise dan DIR/Floortime tidak menolak struktur, tetapi menempatkan struktur setelah hubungan terbentuk. Intervensi dimulai dari dunia anak, minatnya, ritmenya, dan cara uniknya memproses informasi, lalu secara bertahap memperluas kapasitas perkembangan.
Son-Rise Program: Memasuki Dunia Anak untuk Mengundangnya Keluar
Son-Rise Program dikembangkan oleh Kaufman Institute dan berakar pada prinsip penerimaan tanpa syarat, motivasi intrinsik, dan interaksi satu-satu yang intens. Pendekatan ini mengajak orang dewasa untuk joining, mengikuti perilaku repetitif atau minat anak terlebih dahulu, alih-alih langsung menghentikannya (Kaufman et al., 2006).
Misalnya, ketika seorang anak terus memutar roda mobil-mobilan, fasilitator tidak serta-merta mengalihkan perhatian. Ia duduk di dekat anak, ikut memutar roda, dan menunggu momen atensi bersama. Dari titik koneksi inilah komunikasi mulai tumbuh melalui kontak mata, senyum, atau pertukaran suara sederhana.
Pendekatan ini sangat menekankan: (1) keamanan emosional, (2) motivasi internal anak, dan (3) interaksi yang bebas tekanan.
Penelitian kualitatif dan studi observasional menunjukkan bahwa Son-Rise dapat meningkatkan atensi sosial, keterlibatan, dan kualitas interaksi orang tua-anak, meskipun efektivitasnya sangat bergantung pada konsistensi dan intensitas penerapan (Williams, 2006; Houghton et al., 2019).
DIR/Floortime: Perkembangan Emosi sebagai Peta Intervensi
DIR/Floortime, dikembangkan oleh Stanley Greenspan dan Serena Wieder, merupakan model perkembangan yang lebih sistematis dan terstruktur secara klinis. DIR adalah akronim dari Developmental, Individual differences, Relationship-based, yang menekankan bahwa setiap intervensi harus mempertimbangkan tahap perkembangan emosi anak, profil individual (sensorik, motorik, bahasa), dan kualitas hubungan dengan pengasuh.
Floortime praktik utamanya melibatkan orang dewasa yang bermain di lantai bersama anak, mengikuti minat anak, lalu secara aktif menantang anak untuk naik ke tahap perkembangan berikutnya, seperti dari regulasi emosi ke komunikasi dua arah, lalu ke pemecahan masalah simbolik (Greenspan & Wieder, 2006).
Berbeda dari Son-Rise yang sangat non-direktif, DIR/Floortime bersifat semi-direktif: orang dewasa tetap mengikuti anak, tetapi secara sengaja menciptakan emotional challenges yang mendorong fleksibilitas dan berpikir.
Bermain sebagai Bahasa Perkembangan
Dalam kedua pendekatan ini, bermain dipahami sebagai bahasa alami anak. Melalui bermain, anak belajar untuk mengatur emosi, berbagi atensi, memahami sebab-akibat, dan membangun simbolisasi sebagai fondasi bahasa dan kognisi.
Penelitian menunjukkan bahwa intervensi play-based dan relationship-based dapat meningkatkan kemampuan sosial-emosional, komunikasi, dan adaptasi pada anak dengan ASD, terutama bila melibatkan orang tua secara aktif (Solomon et al., 2014; Pajareya & Nopmaneejumruslers, 2011).
Peran Orang Tua: Bukan Terapis Pengganti, tetapi Mitra Perkembangan
Baik Son-Rise maupun DIR/Floortime menempatkan orang tua sebagai figur sentral, bukan sekadar pengamat. Namun penting ditekankan: orang tua tidak diharapkan menjadi terapis profesional. Mereka diajak menjadi co-regulator sebagai sosok yang hadir secara emosional, konsisten, dan reflektif.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip mindfulness parenting, di mana kualitas kehadiran sering kali lebih penting daripada jumlah strategi yang dikuasai. Ketika orang tua mampu menurunkan ekspektasi berlebihan dan benar-benar melihat anak apa adanya, interaksi menjadi lebih autentik dan bermakna.
Son-Rise vs DIR/Floortime: Bukan Mana yang Lebih Baik, tetapi Mana yang Tepat
Perbedaan utama kedua pendekatan terletak pada struktur dan kerangka perkembangan. Son-Rise lebih bebas, berfokus pada motivasi dan afeksi, sementara DIR/Floortime menyediakan peta perkembangan yang lebih jelas dan sering digunakan dalam praktik klinis multidisipliner. Banyak keluarga dan profesional justru mengombinasikan prinsip keduanya menggunakan penerimaan dan joining ala Son-Rise, sekaligus kerangka perkembangan DIR untuk memantau kemajuan anak. Pendekatan integratif ini semakin relevan mengingat heterogenitas profil anak ASD.
Pendekatan Integratif: Ketika Son-Rise dan DIR/Floortime Saling Menguatkan
Dalam praktik klinis sehari-hari, jarang ada satu pendekatan yang sepenuhnya menjawab kompleksitas perkembangan anak dengan ASD. Setiap anak datang dengan profil yang unik kombinasi antara sensitivitas sensori, kapasitas regulasi emosi, kemampuan bahasa, dan dinamika relasi dengan lingkungan terdekatnya. Inilah alasan mengapa semakin banyak keluarga dan profesional memilih pendekatan integratif, menggabungkan prinsip penerimaan dan joining dari Son-Rise dengan kerangka perkembangan emosional yang sistematis dari DIR/Floortime.
Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa hubungan emosional adalah pintu masuk utama, sementara perkembangan membutuhkan peta. Son-Rise memberikan ruang aman bagi anak untuk merasa diterima sepenuhnya tanpa koreksi, tanpa tuntutan performa, dan tanpa tekanan sosial. Melalui joining, anak tidak diminta meninggalkan dunianya, tetapi justru ditemui di sana. Rasa aman inilah yang, secara neuropsikologis, menurunkan aktivasi sistem stres dan membuka peluang bagi keterlibatan sosial yang lebih bermakna (Schore, 2019). Namun, penerimaan saja tidak selalu cukup. Tanpa arah perkembangan yang jelas, interaksi yang hangat berisiko menjadi repetitif dan stagnan. Di titik inilah kerangka DIR/Floortime memainkan peran penting. DIR membantu profesional dan orang tua memahami dimana posisi perkembangan emosi anak saat ini dan kemampuan apa yang perlu distimulasi berikutnya, apakah itu atensi bersama, komunikasi dua arah, fleksibilitas emosi, atau pemikiran simbolik (Greenspan & Wieder, 2006).
Dalam pendekatan integratif, joining ala Son-Rise sering menjadi tahap awal regulasi dan keterhubungan, sementara prinsip DIR digunakan untuk mendorong kemajuan perkembangan secara bertahap dan terukur. Misalnya, ketika seorang anak terus melakukan perilaku repetitif sebagai bentuk sensory seeking, fasilitator dapat terlebih dahulu joining untuk membangun koneksi emosional. Setelah regulasi tercapai, interaksi secara perlahan diarahkan untuk membuka circle of communication, konsep inti dalam DIR, tanpa mematahkan rasa aman yang telah terbentuk.
Penelitian terkini menunjukkan bahwa intervensi yang menggabungkan responsivitas tinggi terhadap inisiatif anak dengan tujuan perkembangan yang jelas cenderung menghasilkan keterlibatan sosial dan komunikasi yang lebih stabil dibanding pendekatan yang terlalu direktif atau terlalu pasif (Solomon et al., 2014; Casenhiser et al., 2015). Hal ini menjadi sangat relevan mengingat profil ASD yang sangat heterogen, tidak hanya antar individu, tetapi juga dalam diri anak yang sama di waktu dan konteks yang berbeda.
Penutup: Perkembangan Tumbuh dalam Hubungan
Son-Rise dan DIR/Floortime mengingatkan kita pada satu hal mendasar: anak berkembang bukan karena dipaksa berubah, tetapi karena merasa cukup aman untuk bertumbuh. Dalam dunia intervensi yang sering kali berorientasi pada target dan data, pendekatan ini mengembalikan relasi manusia sebagai pusat perkembangan.
Bagi anak berkebutuhan khusus, bermain bukan pelarian dari terapi. Bermain adalah terapi itu sendiri ketika dilakukan dengan kehadiran, empati, dan pemahaman perkembangan.
Referensi
Casenhiser, D. M., Shanker, S. G., & Stieben, J. (2015). Learning through interaction in children with autism: Preliminary data from a social-communication-based intervention. Autism, 19(5), 562–573. https://doi.org/10.1177/1362361314535315
Greenspan, S. I., & Wieder, S. (2006). Engaging autism: Using the Floortime approach to help children relate, communicate, and think. Da Capo Press.
Guralnick, M. J. (2017). Early intervention for children with intellectual disabilities: Current knowledge and future prospects. Journal of Applied Research in Intellectual Disabilities, 30(1), 1–14.
Houghton, J., et al. (2019). Parent-mediated interventions for children with autism spectrum disorder: A systematic review. Journal of Autism and Developmental Disorders, 49(9), 3565–3585.
Kaufman, B. N., Kaufman, S. B., & Kaufman, K. L. (2006). The Son-Rise Program: A revolutionary treatment for autism. Houghton Mifflin.
Pajareya, K., & Nopmaneejumruslers, K. (2011). A pilot randomized controlled trial of DIR/Floortime parent training intervention for preschool children with autism spectrum disorders. Autism, 15(5), 563–577. https://doi.org/10.1177/1362361310386502
Schore, A. N. (2019). The development of the unconscious mind. W. W. Norton & Company.
Solomon, R., Van Egeren, L. A., Mahoney, G., Quon Huber, M. S., & Zimmerman, P. (2014). PLAY Project Home Consultation intervention program for young children with autism spectrum disorders: A randomized controlled trial. Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics, 35(8), 475–485.
Williams, K. (2006). The Son-Rise Program intervention for autism: An investigation into family experiences. Journal of Autism and Developmental Disorders, 36(3), 333–342.


Komentar