Oleh: Andini Iskayanti Putri, M.Psi., Psikolog - Koordinator Program & Psikolog Klinis Anak Drisana Center

Di Drisana Center, intervensi pada anak berkebutuhan khusus tidak dimulai dari target perilaku, melainkan dari hubungan. Kami meyakini bahwa perkembangan tidak bisa dipercepat dengan tekanan, dan perubahan yang bertahan lama hanya terjadi ketika anak merasa aman, diterima, dan dipahami. Alasan ini membuat Drisana mengembangkan pendekatan integratif yang menggabungkan prinsip unconditional acceptance dan joining dari Son-Rise dengan kerangka perkembangan emosional DIR/Floortime yang sistematis.
Pendekatan ini lahir dari pengalaman klinis bahwa anak-anak dengan ASD jarang hadir dengan satu profil tunggal. Seorang anak bisa menunjukkan sensory seeking yang tinggi, tetapi memiliki kapasitas kognitif baik; anak lain tampak tenang secara motorik, namun rapuh secara emosi dan relasi. Menghadapi heterogenitas ini, pendekatan tunggal sering kali tidak cukup. Integrasi Son-Rise dan DIR memungkinkan intervensi yang lentur secara relasional, tetapi tetap terarah secara perkembangan.
Dalam praktiknya, prinsip Son-Rise membantu fasilitator dan orang tua membangun emotional safety melalui penerimaan tanpa syarat. Anak tidak dipaksa berhenti dari perilaku repetitif atau dunia internalnya, tetapi ditemani hingga sistem regulasinya stabil. Setelah keterhubungan terbentuk, kerangka DIR digunakan untuk membaca kapasitas perkembangan anak di level mana ia mampu bertahan dalam interaksi, seberapa panjang circle of communication yang dapat dibangun, dan kemampuan apa yang perlu diperkuat berikutnya (Greenspan & Wieder, 2006).
Pendekatan ini membuat intervensi tidak terjebak pada “program yang sama untuk semua anak”, melainkan menjadi proses yang hidup, responsif, dan kontekstual. Bagi Drisana Center, integrasi ini bukan sekadar metode, melainkan sikap klinis: melihat anak sebagai individu yang sedang berkembang, bukan sekadar kumpulan gejala.
Kerangka Intervensi Drisana Center: Regulation → Engagement → Communication
Untuk memastikan pendekatan integratif ini tetap terarah dan dapat dipantau secara klinis, Drisana Center menggunakan kerangka bertahap yang berfokus pada tiga fondasi utama perkembangan anak, yakni regulasi, keterhubungan, dan komunikasi.
Regulation: Menenangkan Sistem Saraf, Membangun Rasa Aman
Tahap pertama adalah regulasi. Banyak anak dengan ASD datang ke ruang terapi dengan sistem saraf yang berada dalam kondisi over-aroused atau under-responsive. Dalam kondisi ini, belajar, baik bahasa, kognisi, maupun sosial, menjadi hampir mustahil. Oleh karena itu, fokus awal bukan pada “mengajar”, melainkan membantu anak merasa cukup aman di tubuh dan lingkungannya sendiri.
Prinsip joining ala Son-Rise digunakan secara aktif pada tahap ini. Terapis mengikuti ritme anak, menyesuaikan intensitas suara, gerakan, dan jarak fisik, sambil memperhatikan kebutuhan sensorinya. Secara neurodevelopmental, regulasi yang konsisten membantu menurunkan respons stres dan membuka akses ke sistem sosial otak, yang menjadi dasar keterlibatan emosional (Schore, 2019).
Engagement: Dari Hadir Bersama ke Relasi Dua Arah
Setelah regulasi mulai stabil, fokus bergeser ke engagement. Di tahap ini, tujuan utama bukan banyaknya aktivitas, melainkan kualitas keterhubungan. Anak mulai mampu bertahan dalam interaksi, menoleh saat dipanggil, atau menunjukkan minat terhadap kehadiran orang lain, meski masih singkat dan tidak konsisten.
Kerangka DIR membantu memetakan kemampuan anak dalam membangun shared attention dan emotional reciprocity. Terapis secara sadar membuka dan memperpanjang circle of communication melalui permainan berbasis relasi, ekspresi wajah, dan respons emosional yang hangat. Engagement dipandang sebagai jembatan antara dunia internal anak dan dunia sosial, bukan sebagai keterampilan yang dipaksakan.
Communication: Bahasa sebagai Hasil Relasi, Bukan Target Terpisah
Komunikasi dalam kerangka Drisana Center tidak dilihat sebagai tujuan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai buah dari regulasi dan engagement yang cukup. Ketika anak merasa aman dan terhubung, komunikasi, verbal maupun nonverbal, muncul secara lebih spontan dan bermakna.
Pada tahap ini, prinsip DIR digunakan untuk mendorong fleksibilitas, simbolisasi, dan pemikiran kompleks sesuai kapasitas perkembangan anak. Bahasa tidak hanya dinilai dari jumlah kata, tetapi dari fungsinya: apakah anak menggunakan komunikasi untuk meminta, berbagi emosi, atau membangun relasi. Pendekatan ini selaras dengan temuan bahwa intervensi berbasis relasi menghasilkan perkembangan komunikasi yang lebih berkelanjutan dibanding pendekatan drill semata (Casenhiser et al., 2015).
Relasi sebagai Fondasi Perkembangan
Pendekatan integratif Son-Rise dan DIR/Floortime di Drisana Center menempatkan relasi sebagai fondasi utama dalam intervensi anak berkebutuhan khusus. Regulasi, keterhubungan, dan komunikasi dipahami sebagai proses perkembangan yang saling terkait, bukan target yang berdiri sendiri.
Dengan memulai dari regulasi sistem saraf, anak dibantu untuk merasa aman di tubuh dan lingkungannya. Dari rasa aman inilah engagement dapat tumbuh secara alami, membuka ruang bagi komunikasi yang lebih bermakna. Bahasa, perhatian, dan fleksibilitas berpikir tidak dipaksakan, tetapi difasilitasi melalui hubungan yang konsisten dan responsif.
Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa perkembangan bukan sekadar soal mengejar milestone, melainkan tentang menemani anak bertumbuh sesuai kapasitasnya. Ketika anak merasa diterima, dipahami, dan tidak terburu-buru, potensi perkembangan muncul dengan cara yang lebih stabil dan berkelanjutan. Pada akhirnya, anak tidak berkembang karena ia terus dilatih, melainkan karena ia merasa cukup aman untuk terhubung dan bertumbuh.
Referensi
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Washington, DC: Author.
Casenhiser, D. M., Shanker, S. G., & Stieben, J. (2015). Learning through interaction in children with autism: Preliminary data from a social-communication-based intervention. Autism, 19(4), 1–12. https://doi.org/10.1177/1362361313510067
Dunn, W. (1997). The impact of sensory processing abilities on the daily lives of young children and their families: A conceptual model. Infants & Young Children, 9(4), 23–35.
Greenspan, S. I., & Wieder, S. (2006). Engaging autism: Using the Floortime approach to help children relate, communicate, and think. Cambridge, MA: Da Capo Press.
Greenspan, S. I., & Wieder, S. (1998). Developmental patterns and outcomes in infants and children with disorders in relating and communicating: A chart review of 200 cases of children with autistic spectrum diagnoses. The Journal of Developmental and Learning Disorders, 1, 87–141.
Kaufman, B. N. (1994). Son-Rise: The miracle continues. Tiburon, CA: HJ Kramer.
Kaufman, S. B., & Kaufman, B. N. (2006). Autism breakthrough: The groundbreaking method that has helped families all over the world. New York, NY: Ballantine Books.
Schore, A. N. (2019). The development of the unconscious mind. New York, NY: W. W. Norton & Company.
Schore, A. N. (2021). Right brain psychotherapy. New York, NY: W. W. Norton & Company.
Shanker, S. (2016). Self-reg: How to help your child (and you) break the stress cycle and successfully engage with life. Toronto, Canada: Penguin Random House.
Tomchek, S. D., & Koenig, K. P. (2022). Sensory processing in children with autism spectrum disorder. Journal of Autism and Developmental Disorders, 52(6), 2601–2615. https://doi.org/10.1007/s10803-021-05234-7
Trevarthen, C., & Aitken, K. J. (2001). Infant intersubjectivity: Research, theory, and clinical applications. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 42(1), 3–48. https://doi.org/10.1111/1469-7610.00701




