top of page

NEWS

I am a description.
Click here to edit.

Oleh: Andini Iskayanti Putri, M.Psi., Psikolog - Koordinator Program & Psikolog Klinis Anak Drisana Center



Di Drisana Center, intervensi pada anak berkebutuhan khusus tidak dimulai dari target perilaku, melainkan dari hubungan. Kami meyakini bahwa perkembangan tidak bisa dipercepat dengan tekanan, dan perubahan yang bertahan lama hanya terjadi ketika anak merasa aman, diterima, dan dipahami. Alasan ini membuat Drisana mengembangkan pendekatan integratif yang menggabungkan prinsip unconditional acceptance dan joining dari Son-Rise dengan kerangka perkembangan emosional DIR/Floortime yang sistematis.


Pendekatan ini lahir dari pengalaman klinis bahwa anak-anak dengan ASD jarang hadir dengan satu profil tunggal. Seorang anak bisa menunjukkan sensory seeking yang tinggi, tetapi memiliki kapasitas kognitif baik; anak lain tampak tenang secara motorik, namun rapuh secara emosi dan relasi. Menghadapi heterogenitas ini, pendekatan tunggal sering kali tidak cukup. Integrasi Son-Rise dan DIR memungkinkan intervensi yang lentur secara relasional, tetapi tetap terarah secara perkembangan.


Dalam praktiknya, prinsip Son-Rise membantu fasilitator dan orang tua membangun emotional safety melalui penerimaan tanpa syarat. Anak tidak dipaksa berhenti dari perilaku repetitif atau dunia internalnya, tetapi ditemani hingga sistem regulasinya stabil. Setelah keterhubungan terbentuk, kerangka DIR digunakan untuk membaca kapasitas perkembangan anak di level mana ia mampu bertahan dalam interaksi, seberapa panjang circle of communication yang dapat dibangun, dan kemampuan apa yang perlu diperkuat berikutnya (Greenspan & Wieder, 2006).


Pendekatan ini membuat intervensi tidak terjebak pada “program yang sama untuk semua anak”, melainkan menjadi proses yang hidup, responsif, dan kontekstual. Bagi Drisana Center, integrasi ini bukan sekadar metode, melainkan sikap klinis: melihat anak sebagai individu yang sedang berkembang, bukan sekadar kumpulan gejala.


Kerangka Intervensi Drisana Center: Regulation → Engagement → Communication

Untuk memastikan pendekatan integratif ini tetap terarah dan dapat dipantau secara klinis, Drisana Center menggunakan kerangka bertahap yang berfokus pada tiga fondasi utama perkembangan anak, yakni regulasi, keterhubungan, dan komunikasi.


Regulation: Menenangkan Sistem Saraf, Membangun Rasa Aman

Tahap pertama adalah regulasi. Banyak anak dengan ASD datang ke ruang terapi dengan sistem saraf yang berada dalam kondisi over-aroused atau under-responsive. Dalam kondisi ini, belajar, baik bahasa, kognisi, maupun sosial, menjadi hampir mustahil. Oleh karena itu, fokus awal bukan pada “mengajar”, melainkan membantu anak merasa cukup aman di tubuh dan lingkungannya sendiri.


Prinsip joining ala Son-Rise digunakan secara aktif pada tahap ini. Terapis mengikuti ritme anak, menyesuaikan intensitas suara, gerakan, dan jarak fisik, sambil memperhatikan kebutuhan sensorinya. Secara neurodevelopmental, regulasi yang konsisten membantu menurunkan respons stres dan membuka akses ke sistem sosial otak, yang menjadi dasar keterlibatan emosional (Schore, 2019).


Engagement: Dari Hadir Bersama ke Relasi Dua Arah

Setelah regulasi mulai stabil, fokus bergeser ke engagement. Di tahap ini, tujuan utama bukan banyaknya aktivitas, melainkan kualitas keterhubungan. Anak mulai mampu bertahan dalam interaksi, menoleh saat dipanggil, atau menunjukkan minat terhadap kehadiran orang lain, meski masih singkat dan tidak konsisten.


Kerangka DIR membantu memetakan kemampuan anak dalam membangun shared attention dan emotional reciprocity. Terapis secara sadar membuka dan memperpanjang circle of communication melalui permainan berbasis relasi, ekspresi wajah, dan respons emosional yang hangat. Engagement dipandang sebagai jembatan antara dunia internal anak dan dunia sosial, bukan sebagai keterampilan yang dipaksakan.


Communication: Bahasa sebagai Hasil Relasi, Bukan Target Terpisah

Komunikasi dalam kerangka Drisana Center tidak dilihat sebagai tujuan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai buah dari regulasi dan engagement yang cukup. Ketika anak merasa aman dan terhubung, komunikasi, verbal maupun nonverbal, muncul secara lebih spontan dan bermakna.


Pada tahap ini, prinsip DIR digunakan untuk mendorong fleksibilitas, simbolisasi, dan pemikiran kompleks sesuai kapasitas perkembangan anak. Bahasa tidak hanya dinilai dari jumlah kata, tetapi dari fungsinya: apakah anak menggunakan komunikasi untuk meminta, berbagi emosi, atau membangun relasi. Pendekatan ini selaras dengan temuan bahwa intervensi berbasis relasi menghasilkan perkembangan komunikasi yang lebih berkelanjutan dibanding pendekatan drill semata (Casenhiser et al., 2015).


Relasi sebagai Fondasi Perkembangan

Pendekatan integratif Son-Rise dan DIR/Floortime di Drisana Center menempatkan relasi sebagai fondasi utama dalam intervensi anak berkebutuhan khusus. Regulasi, keterhubungan, dan komunikasi dipahami sebagai proses perkembangan yang saling terkait, bukan target yang berdiri sendiri.


Dengan memulai dari regulasi sistem saraf, anak dibantu untuk merasa aman di tubuh dan lingkungannya. Dari rasa aman inilah engagement dapat tumbuh secara alami, membuka ruang bagi komunikasi yang lebih bermakna. Bahasa, perhatian, dan fleksibilitas berpikir tidak dipaksakan, tetapi difasilitasi melalui hubungan yang konsisten dan responsif.


Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa perkembangan bukan sekadar soal mengejar milestone, melainkan tentang menemani anak bertumbuh sesuai kapasitasnya. Ketika anak merasa diterima, dipahami, dan tidak terburu-buru, potensi perkembangan muncul dengan cara yang lebih stabil dan berkelanjutan. Pada akhirnya, anak tidak berkembang karena ia terus dilatih, melainkan karena ia merasa cukup aman untuk terhubung dan bertumbuh.


Referensi 

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Washington, DC: Author.

Casenhiser, D. M., Shanker, S. G., & Stieben, J. (2015). Learning through interaction in children with autism: Preliminary data from a social-communication-based intervention. Autism, 19(4), 1–12. https://doi.org/10.1177/1362361313510067 

Dunn, W. (1997). The impact of sensory processing abilities on the daily lives of young children and their families: A conceptual model. Infants & Young Children, 9(4), 23–35.

Greenspan, S. I., & Wieder, S. (2006). Engaging autism: Using the Floortime approach to help children relate, communicate, and think. Cambridge, MA: Da Capo Press.

Greenspan, S. I., & Wieder, S. (1998). Developmental patterns and outcomes in infants and children with disorders in relating and communicating: A chart review of 200 cases of children with autistic spectrum diagnoses. The Journal of Developmental and Learning Disorders, 1, 87–141.

Kaufman, B. N. (1994). Son-Rise: The miracle continues. Tiburon, CA: HJ Kramer.

Kaufman, S. B., & Kaufman, B. N. (2006). Autism breakthrough: The groundbreaking method that has helped families all over the world. New York, NY: Ballantine Books.

Schore, A. N. (2019). The development of the unconscious mind. New York, NY: W. W. Norton & Company.

Schore, A. N. (2021). Right brain psychotherapy. New York, NY: W. W. Norton & Company.

Shanker, S. (2016). Self-reg: How to help your child (and you) break the stress cycle and successfully engage with life. Toronto, Canada: Penguin Random House.

Tomchek, S. D., & Koenig, K. P. (2022). Sensory processing in children with autism spectrum disorder. Journal of Autism and Developmental Disorders, 52(6), 2601–2615. https://doi.org/10.1007/s10803-021-05234-7

Trevarthen, C., & Aitken, K. J. (2001). Infant intersubjectivity: Research, theory, and clinical applications. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 42(1), 3–48. https://doi.org/10.1111/1469-7610.00701 

 
 
 

Oleh: Andini Iskayanti Putri, M.Psi., Psikolog - Koordinator Program & Psikolog Klinis Anak Drisana Center



Selama bertahun-tahun, intervensi untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) kerap dipersepsikan sebagai rangkaian latihan terstruktur, target perilaku, dan daftar keterampilan yang harus “dikejar”. Pendekatan ini memang bermanfaat bagi sebagian anak, namun bagi anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) atau gangguan perkembangan lainnya, perkembangan tidak selalu tumbuh dari instruksi semata. Banyak anak justru berkembang ketika mereka merasa aman, terhubung, dan dipahami.


Di sinilah pendekatan play-based dan relationship-based seperti Son-Rise Program dan DIR/Floortime menemukan relevansinya. Keduanya berangkat dari satu asumsi mendasar: hubungan emosional adalah fondasi perkembangan. Bermain bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan medium utama bagi anak untuk belajar regulasi emosi, komunikasi, dan berpikir.


Menggeser Paradigma: Dari “Mengoreksi Perilaku” ke “Membangun Relasi”

Anak dengan ASD sering kali mengalami kesulitan dalam atensi bersama (joint attention), regulasi emosi, dan fleksibilitas berpikir. Jika intervensi terlalu berfokus pada kepatuhan atau hasil yang terukur, anak dapat tampak “patuh” tanpa benar-benar memahami atau terhubung secara sosial (Greenspan & Wieder, 2006). Son-Rise dan DIR/Floortime tidak menolak struktur, tetapi menempatkan struktur setelah hubungan terbentuk. Intervensi dimulai dari dunia anak, minatnya, ritmenya, dan cara uniknya memproses informasi, lalu secara bertahap memperluas kapasitas perkembangan.


Son-Rise Program: Memasuki Dunia Anak untuk Mengundangnya Keluar

Son-Rise Program dikembangkan oleh Kaufman Institute dan berakar pada prinsip penerimaan tanpa syarat, motivasi intrinsik, dan interaksi satu-satu yang intens. Pendekatan ini mengajak orang dewasa untuk joining, mengikuti perilaku repetitif atau minat anak terlebih dahulu, alih-alih langsung menghentikannya (Kaufman et al., 2006).


Misalnya, ketika seorang anak terus memutar roda mobil-mobilan, fasilitator tidak serta-merta mengalihkan perhatian. Ia duduk di dekat anak, ikut memutar roda, dan menunggu momen atensi bersama. Dari titik koneksi inilah komunikasi mulai tumbuh melalui kontak mata, senyum, atau pertukaran suara sederhana.


Pendekatan ini sangat menekankan: (1) keamanan emosional, (2) motivasi internal anak, dan (3) interaksi yang bebas tekanan.


Penelitian kualitatif dan studi observasional menunjukkan bahwa Son-Rise dapat meningkatkan atensi sosial, keterlibatan, dan kualitas interaksi orang tua-anak, meskipun efektivitasnya sangat bergantung pada konsistensi dan intensitas penerapan (Williams, 2006; Houghton et al., 2019).


DIR/Floortime: Perkembangan Emosi sebagai Peta Intervensi

DIR/Floortime, dikembangkan oleh Stanley Greenspan dan Serena Wieder, merupakan model perkembangan yang lebih sistematis dan terstruktur secara klinis. DIR adalah akronim dari Developmental, Individual differences, Relationship-based, yang menekankan bahwa setiap intervensi harus mempertimbangkan tahap perkembangan emosi anak, profil individual (sensorik, motorik, bahasa), dan kualitas hubungan dengan pengasuh.


Floortime praktik utamanya melibatkan orang dewasa yang bermain di lantai bersama anak, mengikuti minat anak, lalu secara aktif menantang anak untuk naik ke tahap perkembangan berikutnya, seperti dari regulasi emosi ke komunikasi dua arah, lalu ke pemecahan masalah simbolik (Greenspan & Wieder, 2006).


Berbeda dari Son-Rise yang sangat non-direktif, DIR/Floortime bersifat semi-direktif: orang dewasa tetap mengikuti anak, tetapi secara sengaja menciptakan emotional challenges yang mendorong fleksibilitas dan berpikir.


Bermain sebagai Bahasa Perkembangan

Dalam kedua pendekatan ini, bermain dipahami sebagai bahasa alami anak. Melalui bermain, anak belajar untuk mengatur emosi, berbagi atensi, memahami sebab-akibat, dan membangun simbolisasi sebagai fondasi bahasa dan kognisi.


Penelitian menunjukkan bahwa intervensi play-based dan relationship-based dapat meningkatkan kemampuan sosial-emosional, komunikasi, dan adaptasi pada anak dengan ASD, terutama bila melibatkan orang tua secara aktif (Solomon et al., 2014; Pajareya & Nopmaneejumruslers, 2011).


Peran Orang Tua: Bukan Terapis Pengganti, tetapi Mitra Perkembangan

Baik Son-Rise maupun DIR/Floortime menempatkan orang tua sebagai figur sentral, bukan sekadar pengamat. Namun penting ditekankan: orang tua tidak diharapkan menjadi terapis profesional. Mereka diajak menjadi co-regulator sebagai sosok yang hadir secara emosional, konsisten, dan reflektif.


Pendekatan ini sejalan dengan prinsip mindfulness parenting, di mana kualitas kehadiran sering kali lebih penting daripada jumlah strategi yang dikuasai. Ketika orang tua mampu menurunkan ekspektasi berlebihan dan benar-benar melihat anak apa adanya, interaksi menjadi lebih autentik dan bermakna.


Son-Rise vs DIR/Floortime: Bukan Mana yang Lebih Baik, tetapi Mana yang Tepat

Perbedaan utama kedua pendekatan terletak pada struktur dan kerangka perkembangan. Son-Rise lebih bebas, berfokus pada motivasi dan afeksi, sementara DIR/Floortime menyediakan peta perkembangan yang lebih jelas dan sering digunakan dalam praktik klinis multidisipliner. Banyak keluarga dan profesional justru mengombinasikan prinsip keduanya menggunakan penerimaan dan joining ala Son-Rise, sekaligus kerangka perkembangan DIR untuk memantau kemajuan anak. Pendekatan integratif ini semakin relevan mengingat heterogenitas profil anak ASD.


Pendekatan Integratif: Ketika Son-Rise dan DIR/Floortime Saling Menguatkan

Dalam praktik klinis sehari-hari, jarang ada satu pendekatan yang sepenuhnya menjawab kompleksitas perkembangan anak dengan ASD. Setiap anak datang dengan profil yang unik kombinasi antara sensitivitas sensori, kapasitas regulasi emosi, kemampuan bahasa, dan dinamika relasi dengan lingkungan terdekatnya. Inilah alasan mengapa semakin banyak keluarga dan profesional memilih pendekatan integratif, menggabungkan prinsip penerimaan dan joining dari Son-Rise dengan kerangka perkembangan emosional yang sistematis dari DIR/Floortime.


Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa hubungan emosional adalah pintu masuk utama, sementara perkembangan membutuhkan peta. Son-Rise memberikan ruang aman bagi anak untuk merasa diterima sepenuhnya tanpa koreksi, tanpa tuntutan performa, dan tanpa tekanan sosial. Melalui joining, anak tidak diminta meninggalkan dunianya, tetapi justru ditemui di sana. Rasa aman inilah yang, secara neuropsikologis, menurunkan aktivasi sistem stres dan membuka peluang bagi keterlibatan sosial yang lebih bermakna (Schore, 2019). Namun, penerimaan saja tidak selalu cukup. Tanpa arah perkembangan yang jelas, interaksi yang hangat berisiko menjadi repetitif dan stagnan. Di titik inilah kerangka DIR/Floortime memainkan peran penting. DIR membantu profesional dan orang tua memahami dimana posisi perkembangan emosi anak saat ini dan kemampuan apa yang perlu distimulasi berikutnya, apakah itu atensi bersama, komunikasi dua arah, fleksibilitas emosi, atau pemikiran simbolik (Greenspan & Wieder, 2006).


Dalam pendekatan integratif, joining ala Son-Rise sering menjadi tahap awal regulasi dan keterhubungan, sementara prinsip DIR digunakan untuk mendorong kemajuan perkembangan secara bertahap dan terukur. Misalnya, ketika seorang anak terus melakukan perilaku repetitif sebagai bentuk sensory seeking, fasilitator dapat terlebih dahulu joining untuk membangun koneksi emosional. Setelah regulasi tercapai, interaksi secara perlahan diarahkan untuk membuka circle of communication, konsep inti dalam DIR, tanpa mematahkan rasa aman yang telah terbentuk.


Penelitian terkini menunjukkan bahwa intervensi yang menggabungkan responsivitas tinggi terhadap inisiatif anak dengan tujuan perkembangan yang jelas cenderung menghasilkan keterlibatan sosial dan komunikasi yang lebih stabil dibanding pendekatan yang terlalu direktif atau terlalu pasif (Solomon et al., 2014; Casenhiser et al., 2015). Hal ini menjadi sangat relevan mengingat profil ASD yang sangat heterogen, tidak hanya antar individu, tetapi juga dalam diri anak yang sama di waktu dan konteks yang berbeda.


Penutup: Perkembangan Tumbuh dalam Hubungan

Son-Rise dan DIR/Floortime mengingatkan kita pada satu hal mendasar: anak berkembang bukan karena dipaksa berubah, tetapi karena merasa cukup aman untuk bertumbuh. Dalam dunia intervensi yang sering kali berorientasi pada target dan data, pendekatan ini mengembalikan relasi manusia sebagai pusat perkembangan.

Bagi anak berkebutuhan khusus, bermain bukan pelarian dari terapi. Bermain adalah terapi itu sendiri ketika dilakukan dengan kehadiran, empati, dan pemahaman perkembangan.


Referensi 

Casenhiser, D. M., Shanker, S. G., & Stieben, J. (2015). Learning through interaction in children with autism: Preliminary data from a social-communication-based intervention. Autism, 19(5), 562–573. https://doi.org/10.1177/1362361314535315

Greenspan, S. I., & Wieder, S. (2006). Engaging autism: Using the Floortime approach to help children relate, communicate, and think. Da Capo Press.

Guralnick, M. J. (2017). Early intervention for children with intellectual disabilities: Current knowledge and future prospects. Journal of Applied Research in Intellectual Disabilities, 30(1), 1–14.

Houghton, J., et al. (2019). Parent-mediated interventions for children with autism spectrum disorder: A systematic review. Journal of Autism and Developmental Disorders, 49(9), 3565–3585.

Kaufman, B. N., Kaufman, S. B., & Kaufman, K. L. (2006). The Son-Rise Program: A revolutionary treatment for autism. Houghton Mifflin.

Pajareya, K., & Nopmaneejumruslers, K. (2011). A pilot randomized controlled trial of DIR/Floortime parent training intervention for preschool children with autism spectrum disorders. Autism, 15(5), 563–577. https://doi.org/10.1177/1362361310386502

Schore, A. N. (2019). The development of the unconscious mind. W. W. Norton & Company.

Solomon, R., Van Egeren, L. A., Mahoney, G., Quon Huber, M. S., & Zimmerman, P. (2014). PLAY Project Home Consultation intervention program for young children with autism spectrum disorders: A randomized controlled trial. Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics, 35(8), 475–485.

Williams, K. (2006). The Son-Rise Program intervention for autism: An investigation into family experiences. Journal of Autism and Developmental Disorders, 36(3), 333–342.

 
 
 

Oleh: Andini Iskayanti Putri, M.Psi., Psikolog - Koordinator Program & Psikolog Klinis Anak Drisana Center



Mengasuh anak berkebutuhan khusus (ABK) sering kali membuat orang tua hidup dalam dua waktu sekaligus: masa lalu yang dipenuhi rasa bersalah, “Apa yang saya lewatkan?” dan masa depan yang penuh kecemasan “Bagaimana nanti anak saya?” Di tengah kekhawatiran itu, momen kini justru kerap terlewat. Padahal, bagi anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), atau gangguan perkembangan lainnya, kehadiran orang tua secara utuh di saat ini bukan sekadar dukungan emosional, melainkan bagian penting dari intervensi itu sendiri.


Pada konsep ini mindfulness parenting menjadi relevan, bukan sebagai tren pengasuhan modern, tetapi sebagai pendekatan berbasis sains yang membantu orang tua menenangkan diri, memahami anak secara lebih akurat, dan merespons perilaku anak dengan lebih adaptif (Kabat-Zinn & Kabat-Zinn, 1997; Bögels & Restifo, 2014).


Apa Itu Mindfulness Parenting? Hadir, Bukan Sekadar Mengasuh

Mindfulness parenting mengacu pada kemampuan orang tua untuk hadir penuh secara sadar saat berinteraksi dengan anak, memperhatikan pengalaman internal, baik dari pikiran, emosi, hingga sensasi tubuh tanpa menghakimi, sekaligus merespons kebutuhan anak dengan empati dan regulasi diri yang baik (Duncan, Coatsworth, & Greenberg, 2009).

Pendekatan ini mencakup lima dimensi utama:

  1. Kesadaran penuh terhadap anak;

  2. Mendengarkan dengan perhatian utuh;

  3. Penerimaan tanpa penilaian;

  4. Regulasi emosi orang tua; serta 

  5. Kasih sayang terhadap diri sendiri dan anak. 

Dalam konteks ABK, kelima aspek ini menjadi fondasi penting karena perilaku anak sering kali tidak sesuai ekspektasi normatif, sehingga mudah memicu stres, frustrasi, atau reaksi impulsif dari orang tua.


Mengapa Mindfulness Penting bagi Orang Tua ABK?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang tua anak dengan ASD dan ADHD mengalami tingkat stres yang lebih tinggi dibanding orang tua anak dengan perkembangan tipikal (Hayes & Watson, 2013; Theule et al., 2013). Stres kronis ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental orang tua, tetapi juga pada kualitas interaksi orang tua–anak. Anak dengan ASD, misalnya, sering menunjukkan perilaku repetitif, sensitivitas sensori, atau kesulitan komunikasi. Tanpa kesadaran penuh, orang tua cenderung bereaksi secara otomatis menegur, melarang, atau memaksa anak “tenang” tanpa menyadari bahwa perilaku tersebut mungkin merupakan respons terhadap kelebihan rangsangan sensori, bukan bentuk pembangkangan (Tomchek & Koenig, 2022).


Pada anak dengan ADHD, impulsivitas dan inatensi sering kali memicu konflik berulang. Orang tua yang berada dalam kondisi stres tinggi lebih mudah merespons dengan kemarahan atau kontrol berlebihan, yang justru memperburuk regulasi emosi anak (Johnston & Mash, 2001). Mindfulness parenting membantu memutus siklus reaktif ini dengan memberi jeda antara perilaku anak dan respons orang tua.


Mindfulness Parenting dan Regulasi Emosi Anak

Salah satu temuan penting dalam psikologi perkembangan adalah bahwa regulasi emosi anak sangat dipengaruhi oleh regulasi emosi orang tua. Anak belajar menenangkan diri bukan hanya dari instruksi verbal, tetapi dari pengalaman relasional, bagaimana orang tua hadir saat anak kesulitan (Morris et al., 2007).


Penelitian pada keluarga dengan anak ASD menunjukkan bahwa intervensi berbasis mindfulness pada orang tua berkontribusi pada penurunan perilaku agresif, peningkatan kepatuhan, serta perbaikan kualitas interaksi sosial anak (Singh et al., 2014). Efek ini terjadi bukan karena anak “dilatih mindfulness”, tetapi karena orang tua menjadi lebih tenang, konsisten, dan responsif.


Dengan kata lain, ketika orang tua belajar bernapas sebelum bereaksi, anak mendapatkan co-regulation yang dibutuhkannya untuk berkembang.


Sensory Processing, ADHD, dan Kesadaran Orang Tua

Pada anak dengan profil sensori atipikal baik sensory seeking, sensory avoiding, maupun sensory sensitivity, mindfulness membantu orang tua membaca sinyal tubuh anak secara lebih akurat. Anak yang berlari ke sana kemari mungkin sedang mencari input proprioseptif, bukan “tidak mau nurut”. Anak yang menutup telinga bisa jadi sedang kewalahan, bukan bersikap dramatis.


Orang tua yang mindful lebih mampu menggeser pertanyaan dari “Kenapa dia begini?” menjadi “Apa yang sedang dibutuhkan tubuh dan otaknya?” Pergeseran perspektif ini terbukti menurunkan konflik dan meningkatkan efektivitas strategi intervensi sensori dan perilaku (Bögels et al., 2014; Lane et al., 2025).


Mindfulness Parenting Bukan Berarti Membiarkan

Penting diluruskan bahwa mindfulness parenting bukan berarti orang tua menjadi pasif atau membiarkan perilaku bermasalah. Justru sebaliknya, pendekatan ini menekankan batas yang jelas (clear boundaries) dengan cara yang lebih sadar dan konsisten.


Orang tua tetap boleh berkata “tidak”, tetap menetapkan struktur, dan tetap menjalankan terapi atau program intervensi. Bedanya, semua dilakukan tanpa ledakan emosi, tanpa label negatif, dan tanpa kehilangan koneksi emosional dengan anak.


Latihan Mindfulness Sederhana untuk Orang Tua ABK

Mindfulness parenting tidak harus dimulai dari meditasi panjang. Praktik kecil justru sering lebih berdampak:

  • Luangkan jeda satu tarikan napas sebelum merespons perilaku anak.

  • Sadari emosi yang muncul, marah, lelah, takut, tanpa langsung bertindak.Amati perilaku anak sebagai sinyal kebutuhan, bukan serangan personal.Berikan self-compassion: mengasuh ABK itu berat, dan lelah bukan tanda gagal.

Penelitian menunjukkan bahwa bahkan praktik mindfulness singkat namun konsisten dapat menurunkan stres orang tua dan meningkatkan kualitas pengasuhan (Neece, 2014).


Penutup: Hadir Adalah Bentuk Cinta yang Paling Nyata

Mindfulness parenting tidak menjanjikan pengasuhan yang sempurna. Ia tidak menghilangkan tantangan ASD, ADHD, atau gangguan perkembangan lainnya. Namun, pendekatan ini menawarkan sesuatu yang sering hilang dalam proses terapi dan intervensi: kehadiran manusiawi yang penuh empati. Bagi anak berkebutuhan khusus, orang tua yang hadir sepenuhnya sering kali adalah lingkungan terapeutik terbaik yang bisa mereka miliki.


Referensi

Bögels, S. M., & Restifo, K. (2014). Mindful parenting: A guide for mental health practitioners. Springer.

Duncan, L. G., Coatsworth, J. D., & Greenberg, M. T. (2009). A model of mindful parenting: Implications for parent–child relationships and prevention research. Clinical Child and Family Psychology Review, 12(3), 255–270. https://doi.org/10.1007/s10567-009-0046-3 

Hayes, S. A., & Watson, S. L. (2013). The impact of parenting stress: A meta-analysis of studies comparing parents of children with and without autism spectrum disorder. Journal of Autism and Developmental Disorders, 43(3), 629–642. https://doi.org/10.1007/s10803-012-1604-y 

Johnston, C., & Mash, E. J. (2001). Families of children with attention-deficit/hyperactivity disorder: Review and recommendations for future research. Clinical Child and Family Psychology Review, 4(3), 183–207.

Kabat-Zinn, M., & Kabat-Zinn, J. (1997). Everyday blessings: The inner work of mindful parenting. Hyperion.

Morris, A. S., Silk, J. S., Steinberg, L., Myers, S. S., & Robinson, L. R. (2007). The role of the family context in the development of emotion regulation. Social Development, 16(2), 361–388.

Neece, C. L. (2014). Mindfulness-based stress reduction for parents of young children with developmental delays: Implications for parental mental health and child behavior problems. Journal of Applied Research in Intellectual Disabilities, 27(2), 174–186. https://doi.org/10.1111/jar.12064 

Singh, N. N., Lancioni, G. E., Winton, A. S. W., et al. (2014). Mindfulness-based positive behavior support (MBPBS) for parents of children with autism spectrum disorder. Mindfulness, 5(2), 163–171.

Tomchek, S. D., & Koenig, K. P. (2022). Sensory processing in children with autism spectrum disorder. Journal of Autism and Developmental Disorders, 52(6), 2601–2615.

 
 
 

KUNJUNGI KAMI

Drisana Center

Wisma Nugra Santana 13th Floor, Suite 1303, Jl Jenderal Sudirman Kav 7/8, Jakarta Selatan, Indonesia

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram

HUBUNGI KAMI

Whatsapp

Email

© 2019 by Drisana Center

bottom of page