top of page

Speech Delay

  • 24 Des 2025
  • 7 menit membaca

Oleh: Andini Iskayanti Putri, M.Psi., Psikolog - Koordinator Program & Psikolog Klinis Anak Drisana Center



Banyak orang tua yang khawatir ketika anak mereka belum berbicara sesuai usia. Pertanyaan yang muncul biasanya: “Apakah ini normal?” atau “Apakah anak saya mengalami gangguan bicara?” Fenomena ini sering disebut speech delay, namun penting dipahami bahwa speech delay bukanlah diagnosis klinis, melainkan indikator atau gejala yang bisa muncul karena berbagai alasan (Paul & Norbury, 2012).


Apa itu Speech Delay?

Secara sederhana, speech delay adalah kondisi ketika kemampuan bicara anak berkembang lebih lambat dibanding anak seusianya. Namun, hal ini tidak otomatis berarti ada gangguan perkembangan serius. Menurut DSM‑5, gangguan perkembangan bahasa (Language Disorder) baru bisa didiagnosis bila keterlambatan bicara memengaruhi pemahaman dan produksi bahasa, serta berdampak nyata pada fungsi sosial, akademik, atau kehidupan sehari-hari (American Psychiatric Association, 2013). Artinya, gejala dan diagnosis berbeda, karena:

  • Speech delay terjadi ketika anak bicara lebih lambat dari usia normatif

  • Gangguan bahasa terjadi ketika ada keterlambatan bicara disertai kesulitan memahami/menyusun bahasa yang konsisten dan berdampak fungsi sehari-hari

Dengan kata lain, anak yang terlambat bicara tidak otomatis memiliki gangguan klinis. Evaluasi sistematis dibutuhkan untuk menelusuri penyebab keterlambatan.


Penyebab Speech Delay: Bukan Sekadar “Terlambat Bicara”

  1. Masalah Pendengaran: Ketika Suara Tidak Masuk ke Otak

    Beberapa anak belum mulai berbicara karena mereka tidak mendengar rangsangan bahasa secara optimal. Gangguan pendengaran konduktif, seperti infeksi telinga berulang, dapat menyebabkan anak melewatkan momen-momen belajar bahasa yang penting. Selain itu, gangguan sensorineural—kerusakan pada saraf atau organ pendengaran juga bisa menjadi faktor substansi (Northern & Downs, 2014).


    Bayangkan anak yang duduk di tengah ruangan kelas tetapi hanya menangkap sebagian suara guru. Selama berbulan-bulan, kekurangan input ini menumpuk, sehingga kosakata dan kemampuan menyusun kalimat tertunda. Tes BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) atau audiometri klinis direkomendasikan untuk memastikan anak mendapatkan stimulasi auditory yang optimal.


  1. Perhatian dan Kognisi: Bahasa Butuh Otak yang Siap Memproses

    Bahasa bukan sekadar meniru kata; ia membutuhkan memori kerja, perhatian, dan kapasitas kognitif. Anak yang mudah terdistraksi atau memiliki working memory terbatas sering mengalami kesulitan mengingat kata baru atau mengikuti instruksi kompleks (Gathercole & Alloway, 2008).


    Misalnya, ketika diberi instruksi “Ambil bola merah dan letakkan di kotak biru,” anak mungkin hanya mengingat sebagian perintah, sehingga ucapannya tidak muncul atau kalimat yang dihasilkan terputus-putus. Gangguan atensi ini sering terlihat pada anak ADHD, tetapi bisa juga muncul pada anak tanpa diagnosis klinis yang memiliki fokus terbatas.


  1. Pemahaman Struktur Bahasa: Lebih dari Sekadar Kata

    Bahasa tidak hanya soal kosakata, tapi juga tentang sintaksis, morfologi, dan hubungan antar kata. Anak perlu memahami bagaimana kata saling terhubung untuk membentuk kalimat bermakna. Evaluasi verbal comprehension dan kemampuan struktur bahasa membantu menilai apakah keterlambatan bicara terkait kapasitas kognitif atau pemrosesan informasi (Leonard, 2014).


Contohnya, seorang anak mungkin bisa menyebut kata “mobil” dan “jalan,” tetapi kesulitan menyusun kalimat “Mobil berjalan di jalan.” Hal ini bisa menunjukkan bahwa keterlambatan bicara bukan sekadar vokal yang belum keluar, melainkan kesulitan memahami hubungan logis antar kata.


  1. Faktor Oromotor dan Fisiologi Mulut: Tubuh Juga Perlu Latihan

Kemampuan gerakan mulut, lidah, dan otot wajah merupakan fondasi bicara. Anak yang terlambat MPASI, terlalu lama menggunakan dot, atau mengalami gangguan oral-motorik lainnya mungkin tidak memiliki koordinasi yang cukup untuk mengucapkan kata-kata dengan benar (Pennington, 2017).


Gerakan sederhana seperti meniup, menjilat, atau mengunyah membantu memperkuat otot yang digunakan untuk berbicara. Tanpa latihan ini, suara yang dihasilkan bisa terbatas, sehingga kata-kata terlambat muncul.


  1. Lingkungan dan Stimulasi Bahasa: Bahasa Adalah Interaksi

Anak belajar berbicara melalui interaksi sosial. Minimnya paparan bahasa, interaksi yang terbatas, atau terlalu banyak waktu di depan gadget dapat memperlambat perkembangan bicara, meski kemampuan kognitif anak normal (Hoff, 2006). Lingkungan kaya bahasa, misalnya membaca bersama, bercerita, menyanyi, atau percakapan sehari-hari menjadi “bahan bakar” bagi kemampuan verbal anak. Tanpa stimulasi ini, meskipun pendengaran dan kognisi normal, keterlambatan bicara tetap mungkin terjadi.


Speech Delay dan Autism Spectrum Disorder (ASD)

Anak-anak dengan ASD seringkali menunjukkan keterlambatan bicara yang lebih dari sekadar lambatnya kosakata. Mereka mungkin mulai mengucapkan kata lebih lambat, tetapi masalah utama terletak pada bahasa pragmatik, yakni cara menggunakan bahasa untuk berinteraksi sosial. Misalnya, seorang anak mungkin mengulang kata yang sama berulang kali (echolalia), tetapi tanpa memahami konteks atau maksud komunikasi lawan bicara (South, Ozonoff, & McMahon, 2021).


Selain itu, sensitivitas sensorik dapat memperburuk keterlambatan ini. Anak yang terlalu sensitif terhadap suara atau tekstur makanan mungkin menghindari aktivitas yang melatih artikulasi, sehingga kemampuan bicara tidak berkembang optimal (Tomchek & Koenig, 2022). Orang tua sering merasa frustasi karena meskipun anak mereka tampak cerdas dan memahami dunia sekitarnya, kemampuan komunikasinya tidak sejalan dengan teman sebaya.


Speech Delay dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Pada anak dengan ADHD, keterlambatan bicara biasanya muncul sebagai akibat sekunder dari kesulitan perhatian dan kontrol impuls. Anak mungkin bisa mengucapkan kata-kata dengan benar, tetapi sering melewatkan instruksi panjang atau mengalami kesulitan menyusun kalimat karena pikiran mudah terdistraksi (Méndez-Freije et al., 2023).


Contohnya, seorang anak mungkin sedang bercerita tentang kegiatan sekolah, tetapi sering meloncat-loncat dari satu topik ke topik lain, membuat percakapan menjadi sulit diikuti. Bahasa pragmatik biasanya kurang terganggu dibanding anak dengan ASD, tetapi kosakata dan struktur kalimat dapat terbatas karena anak tidak menangkap seluruh konteks pembicaraan. Orang tua kerap bingung, karena anak tampak cerdas, namun kemampuan bicara “tidak konsisten” tergantung fokus dan situasi.


Speech Delay dan Intellectual Disability (ID)

Anak dengan ID biasanya mengalami keterlambatan bicara sebagai bagian dari hambatan perkembangan yang lebih luas. Mereka tidak hanya terbatas pada kosakata atau susunan kalimat, tetapi juga menghadapi tantangan dalam memahami instruksi kompleks, memproses informasi, dan menyesuaikan diri dalam interaksi sosial (Næss et al., 2016).


Seorang anak mungkin memahami kata secara literal, tetapi kesulitan mengerti percakapan yang membutuhkan konteks atau inferensi. Keterlambatan ini membuat orang tua sering kebingungan, karena anak terlihat “normal” secara fisik, tetapi kemampuan komunikasinya jauh di belakang teman sebaya. Intervensi biasanya memerlukan strategi multisensori, pengulangan, dan penggunaan alat bantu komunikasi untuk membantu anak memahami dan mengekspresikan dirinya.


Speech Delay sebagai Language Disorder

Berbeda dari keterlambatan bicara yang berdiri sendiri, Language Disorder menurut DSM‑5 melibatkan kesulitan konsisten dalam memahami atau memproduksi bahasa, yang memengaruhi fungsi sosial dan akademik (American Psychiatric Association, 2013).


Anak dengan Language Disorder mungkin tahu banyak kata, tetapi kesulitan menghubungkan kata menjadi kalimat yang bermakna. Misalnya, seorang anak dapat menyebutkan nama benda, tetapi tidak mampu menjelaskan fungsinya atau menyusun kalimat sederhana untuk meminta sesuatu. Masalah ini sering membuat orang tua merasa anaknya “cerdas tapi tidak komunikatif”, sehingga intervensi terapi bahasa harus diarahkan pada pemahaman dan produksi bahasa yang koheren.


Tips Stimulasi & Cek Anak untuk Orang Tua

  1. Pantau Milestones Bicara

  2. Apa yang harus diperhatikan: Catat kata pertama, jumlah kata yang diucapkan, kemampuan menyusun kalimat sederhana, serta kemampuan mengikuti instruksi dua langkah.

  3. Kenapa penting: Dengan memantau milestones, orang tua bisa melihat apakah keterlambatan bicara hanya ringan atau memerlukan evaluasi lebih lanjut (Paul & Norbury, 2012).

  4. Cara praktis: Buat jurnal singkat, tulis kata-kata baru setiap minggu, dan catat momen-momen anak mencoba menyusun kalimat.

  5. Stimulasi Bahasa Sehari-hari

  6. Apa yang bisa dilakukan: Membaca buku bergambar, bernyanyi, bercerita, menamai benda di sekitar, berbicara dengan anak saat melakukan kegiatan sehari-hari.

  7. Kenapa penting: Paparan bahasa yang konsisten dan beragam memperkaya kosakata, pemahaman sintaksis, serta kemampuan pragmatik anak (Hoff, 2006).

  8. Tips praktis:

    • Gunakan kalimat sederhana dan jelas.

    • Ajukan pertanyaan terbuka: “Apa yang kamu lihat di gambar ini?”

    • Ulangi kata-kata baru beberapa kali dalam konteks berbeda untuk memperkuat memori anak.

  9.  Main Peran & Permainan Interaktif

  10. Apa yang bisa dilakukan: Bermain pura-pura, menggunakan boneka, mainan, atau bermain peran sederhana (misal “berjualan”, “dokter-pasien”).

  11. Kenapa penting: Aktivitas ini mendorong anak menggunakan bahasa untuk berinteraksi, mengajarkan urutan cerita, dan meningkatkan kemampuan pragmatik. Anak belajar meminta, menolak, atau menyampaikan emosi melalui bahasa (Leonard, 2014).

  12. Tips praktis:

    • Ikuti imajinasi anak, jangan terlalu mengoreksi.

    • Perluas kalimat anak secara alami: jika anak bilang “mobil”, Anda bisa menambahkan “Mobil merah itu bergerak cepat.”

  13. Batasi Penggunaan Gadget

  14. Kenapa penting: Interaksi tatap muka lebih efektif untuk perkembangan bahasa dibanding menonton layar. Anak belajar bahasa dari ekspresi wajah, gestur, dan respons orang lain, bukan hanya kata-kata di layar (Hoff, 2006).

  15. Tips praktis:

    • Batasi gadget maksimal 30 menit/ hari untuk anak usia prasekolah.

    • Gunakan gadget hanya sebagai alat bantu belajar bersama orang tua, bukan pengganti interaksi.

  16. Perhatikan Pendengaran & Oral-Motor

  17. Apa yang harus dicek:

    • Telinga: apakah ada infeksi berulang, sulit merespons suara, atau sensitif terhadap suara tertentu.

    • Oral-motor: kemampuan menggerakkan bibir, lidah, dan otot wajah saat makan, meniup, atau menirukan bunyi.

  18. Kenapa penting: Pendengaran yang optimal dan koordinasi oral-motor yang baik adalah fondasi bicara (Northern & Downs, 2014; Pennington, 2017).

  19. Cara praktis:

    • Bila ada keraguan, lakukan pemeriksaan audiometri atau evaluasi oleh terapis wicara.

    • Latihan sederhana: meniup balon, meniup serbet atau peniup mini; menirukan suara hewan; mengunyah makanan dengan tekstur berbeda.

6. Evaluasi Profesional Bila Perlu

  • Siapa yang bisa membantu: Dokter spesialis anak, psikolog klinis anak, terapis wicara, dokter spesialis THT, atau tim multidisiplin.

  • Kenapa penting: Evaluasi profesional membantu menentukan apakah keterlambatan bicara bersifat ringan, sekunder dari kondisi lain (misal ADHD, ASD, ID), atau merupakan Language Disorder yang memerlukan intervensi lebih intensif (American Psychiatric Association, 2013; Næss et al., 2016).

  • Tips praktis:

    • Jangan menunggu terlalu lama; semakin dini intervensi, semakin besar peluang anak mengejar ketertinggalan.

    • Diskusikan hasil observasi rumah dengan profesional untuk rencana stimulasi yang spesifik dan terukur.


Referensi

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Washington, DC: APA.

Gathercole, S. E., & Alloway, T. P. (2008). Working memory and learning: A practical guide for teachers. Sage Publications.

Hoff, E. (2006). How social contexts support and shape language development. Developmental Review, 26(1), 55–88. https://doi.org/10.1016/j.dr.2005.11.002 

Leonard, L. B. (2014). Children with specific language impairment (2nd ed.). MIT Press.

Méndez-Freije, B., et al. (2023). Language difficulties in children with ADHD: A review. Journal of Attention Disorders, 27(4), 547–560. https://doi.org/10.1177/10870547221113245 

Næss, K. A. B., et al. (2016). Language development in children with intellectual disability. Research in Developmental Disabilities, 49-50, 145–157. https://doi.org/10.1016/j.ridd.2015.11.004 

Northern, J. L., & Downs, M. P. (2014). Hearing in children (6th ed.). Wolters Kluwer.

Paul, R., & Norbury, C. F. (2012). Language disorders from infancy through adolescence (4th ed.). Elsevier.

Pennington, L. (2017). Oral-motor development and speech: Clinical implications. Journal of Speech, Language, and Hearing Research, 60(3), 567–580. https://doi.org/10.1044/2016_JSLHR-S-16-0087 

South, M., Ozonoff, S., & McMahon, W. M. (2021). Pragmatic language development in autism spectrum disorder. Journal of Autism and Developmental Disorders, 51(2), 432–445. https://doi.org/10.1007/s10803-020-04688-9 

Tomchek, S., & Koenig, K. (2022). Sensory processing in children with autism spectrum disorder. Journal of Autism and Developmental Disorders, 52(6), 2601–2615. https://doi.org/10.1007/s10803-021-05234-7


 
 
 

Komentar


KUNJUNGI KAMI

Drisana Center

Wisma Nugra Santana 13th Floor, Suite 1303, Jl Jenderal Sudirman Kav 7/8, Jakarta Selatan, Indonesia

HUBUNGI KAMI

Whatsapp

Email

Main Logo - White Background.png
  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram

© 2019 by Drisana Center

bottom of page